-=[ Klick Go To My Homepage ]=-














Majlis Bimbingan Dakwah
Majlis Bimbingan Dakwah

Pages

Monday, March 4, 2013

Dakwah Pesantren Perlu Dimodifikasi

Dakwah pesantren perlu dimodifikasi untuk menembus ruang yang lebih luas. Misalnya, media virtual, media cetak, televisi dan jejaring sosial. Para santri juga diharapkan mau berkecimpung di dunia jurnalistik agar bisa membantu membenahi keterpurukan bangsa Indonesia.

Demikian dalam seminar sehari bertajuk Peranan Media dalam Dakwah Islamiah yang digelar Panitia Haul Almaghfurlah, KH Syaerozie Abdur Rochim, Pendiri Pondok Pesantren Assalafie, Babakan Ciwaringin Cirebon, Senin (18/2).

Mengutip pernyataan Syaikh Ali Mahchfudz, Sekretaris Komisi Kerukunan Umat Beragama, Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat, Ust Amin Baejuri mengungkapkan, esensi dakwah adalah upaya membangkitkan kesadaran manusia dalam memperjuangkan kebaikan dan mencegah kemungkaran.

“Tujuan yang ingin dicapai dalam dakwah keridhaan Allah. Di mana obyek dakwah tak melulu umat Islam, tetapi juga seluruh manusia, bahkan seluruh alam. Dari sudut manapun dakwah itu diarahkan, intinya adalah ammar ma’ruf nahy munkar,” urai Amin.

Saat ini, kata Amin terdapat 35.000 pesantren dengan 5 juta santri di Indonesia. Jika puluhan ribu pesantren beserta jutaan santrinya itu berdaya, maka diyakini bisa mempercepat kebangkitan bangsa Indonesia.

Lebih lanjut Alumni Pesantren Assalafie, angkatan 1987 itu memaparkan, keterpurukan bangsa ini diantaranya karena diabaikannya perbaikan mental dalam agenda reformasi. “Reformasi yang hanya berkutat pada perbaikan sistem politik dan pembangunan infrastruktur fisik, dengan melupakan reformasi mental, membuat bangsa ini kehilangan kendali dari arus bidaya global dan melupakan jatidirinya selaku bangsa Indonesia. Maka tak heran jika sebagian besar anak bangsa ini terjerat pada gaya hidup hedonis, indibidualis dan materialistis,” tandasnya.

Hal itu menurut Amin adalah tugas bersama seluruh elemen bangsa termasuk kalangan pesantren, untuk membenahinya. “Masalah yang dihadapi umat Islam saat ini adalah lemahnya kualitas sumberdaya manusia. Hal itu tercermin dari lima kemiskinan. Yakni miskin intelektual, sosial, moral, ekonomi, dan metodologi,” ujarnya.

Lemahnya intelektual membuat umat islam Indonesia sulit mengembangkan teknologi scientific. Sementara miskin sosial membuat umat Islam terisolasi dan terasing juga terjebak inferioritas. Sementara miskin moral membuat bangsa ini hipokrit, hedonis pragmatis, materialistis bahkan juga terjebak pada penyakit mistis. “Hal itu diperparah dengan lemahnya kemampuan untuk bersaing dalam pengembangan potensi ekonomi dan lemahnya metodologi, sehingga selalu salah kaprah dalam menghadapi berbagai masalah,” paparnya.

Reporter Duta Masyarakat  Abdul Malik Mughni, dan Reporter Majalah Gatra Faiz Ade Faizal mengungkapkan perlunya kalangan pesantren berkeceimpung di wilayah jurnalistik dan bergerak melawan dominasi. Para santri sebenarnya telah belajar jurnalistik sejak mengaji sorogan.Tradisi santri salah satunya adalah tradisi tulis menulis.By Indra Andarun

Hidup adalah pilihan

Bismillahirrohmanirrohiim : Alkisah, Seorang pemuda mendatangi 'orang bijak' Ia menyampaikan maksud dan tujuannya.

"Saya menempuh perjalanan jauh iniuntuk menemukan cara membuat diri sendiri
selalu merasa bahagia, sekaligus membuat orang lain selalu gembira. "

Sambil tersenyum bijak, orang itu berkata, "Anak muda, orang seusiamu punya keinginan begitu, sungguh tidak biasa. Baiklah, aku akan memberimu empat kalimat. Perhatikan baik-baik ya ..."

"Pertama, anggap dirimu sendiri seperti orang lain! Apakah kamu mengerti kalimat pertama ini? Coba pikir baik-baik dan beri aku pengertianmu tentang hal ini."

Si pemuda menjawab, "Jika bisa menganggap diri saya seperti orang lain, maka saat saya menderita, sakit dan sebagainya, dengan sendirinya perasaan sakit itu akan jauh berkurang.

Begitu juga sebaliknya, jika saya mengalami kegembiraan yang luar biasa, dengan menganggap diri sendiri seperti orang lain, maka kegembiraan tidak akan membuatku lupa diri. Betulkah begitu? "

Dengan wajah senang, orang bijak itu mengangguk-anggukkan kepaladan melanjutkan kata-katanya.

"Kalimat kedua, anggap orang lain seperti dirimu sendiri!"

Pemuda itu berkata, "Dengan menganggap orang lain seperti diri kita, maka saat orang lain sedang tidak beruntung, kita bisa berempati, bahkan mengulurkan tangan untuk membantu.Kita juga bisa menyadari akan kebutuhan dan keinginan orang lain.Berjiwa besar serta penuh toleransi.

Dengan raut wajah makin cerah, orang bijak itu kembali mengangguk-anggukkan kepala. Ia berkata,

"Lanjut ke kalimat ketiga. Perhatikan kalimat ini baik-baik,

anggap orang lain seperti mereka sendiri! "

Si anak muda kembali mengutarakan pendapatnya,

"Kalimat ketiga ini menunjukkan bahwa kitaharus menghargai privasi orang lain, menjaga HAM dengan sama dan sejajar.

Sehingga, kita tidak perlu salingmenyerang wilayah dan menyakiti orang lain.Tidak saling mengganggu.

Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri.Bila terjadi ketidakcocokan atau perbedaan pendapat, masing-masing bisa saling menghargai. "

Kata orang bijak itu,

"Bagus, bagus sekali!

Nah, kalimat keempat: anggap dirimu sebagai dirimu sendiri!

Aku telah menyelesaikan semua jawaban atas pertanyaanmu.Kalimat yang terakhir memang sesuatu yang sepertinya tidak biasa.Karena itu, renungkan baik-baik. "

Pemuda itu tampak kebingungan. Katanya,

"Setelah memikirkan keempat kalimat tadi, saya merasa ada ketidakcocokan, bahkan ada yang kontradiktif.Bagaimana caranya saya bisa merangkum keempat kalimat tersebut menjadi satu?

Dan, perlu waktu berapa lama untuk mengerti semua kalimat itusehingga aku bisa selalu gembira dan sekaligusbisa membuat orang lain juga gembira? "

Spontan, orang Bijak itu menjawab, "Mudah sekali.Coba renungkan dan gunakan waktumu seumur hidupuntuk belajar dan mengalaminya sendiri."

Begitulah, si pemuda melanjutkan kehidupannya dan akhirnya meninggal.Sepeninggalnya, orang-orang sering menyebut namanya dan membicarakannya.Dia mendapat julukan sebagai:

"Orang bijak yang selalu gembiradan senantiasa menularkan kegembiraannyakepada setiap orang yang dikenal."


Sahabat .....

Sebagai makhluk sosial, kita dituntutuntuk belajar mencintai kehidupandan berinteraksi dengan manusia lain di muka bumi ini.Selama kita mampu menempatkan diri, tahu dan mampu menghargai hak-hak orang lain, serta mengerti keberadaan jati diri sendiri di setiap jenjang proses kehidupan,

maka kita akan menjadi manusia yang lentur.Dengan begitu, di mana pun kita bergaul dengan manusia lain, akan selalu timbul kehangatan, kedamaian, dan kegembiraan.Sehingga, kebahagiaan hidup akan muncul secara alami ...

Sahabat ....

"A man must learn to understand the motives of human beings, their illusions, and their sufferings."

Cintailah apapun bidang yang kamu tekuni sekarang, niscaya kesuksesan akan datang pada kamu, Bismillah ..

Arti kehidupan adalah belajar menjalaniperan sebagai diri sendiri. manusia seringkaliberusaha menjadi orang lain dalam hidupnya.ada yang hidupnya sibuk dengan penilaian orang lain terhadapnya.ada yang tidak peduli sama sekali dengan lingkungan sekitar.

jika manusia menjadi dirinya sendiri (Bukan menjadi seperti orang lain) dia pasti akan menyayangi diri sendiri.lalu melihat orang lain seperti dirinya yang akan selalu dihargai ..

"Bila kita memandang diri kita sendiri kecil, dunia akan tampak sempit dan tindakan pun akan menjadi kerdil, namun bila kita memandang diri kita besar, dunia terlihat luas, dan kita akan melakukan hal hal penting dan berharga.

tindakan adalah cermin bagaimana melihat dunia, sementara dunia tak lebih luas dari pemikiran Anda tentang diri kita sendiri, itulah mengapa kita diajarkan untuk berprasangka positif pada diri sendiri,

agar bisa melihat dunia lebih indah, dan bertindak selaras dengan kebaikan kebaikanyang ada dalam pikiran kita, padahal dunia tak butuh penilaian apa apa dari kita, ia hanya memantulkan apa yang ingin kita lihat, menggemakan apa yang ingin kita dengar, bila takut menghadapi dunia, sesungguhnya kita takut menghadapi diri sendiri.

maka bukan soal apakah kita berprasangka positifatau negatif terhadap diri sendiri, melampaui diatas itu, kita perlu jujuur melihat diri sendiri apa adanya, dan dunia pun menampakkan realitanyayang selama ini tersembunyi di balik penilaian penilaian kita.Wallahu a'lam. semoga bermanfaat aamiin.

PERBUATAN MANUSIA,MENUNJUKKAN HASIL BERAGAMA.

Kita tidak perlu tahu,manusia ini asalnya dari mana,atau Agamanya apa, atau keturunan siapa,tetapi salah satu indikator dasar untuk mengetahui '' Hasil Beragama '' adalah : '' Perbuatan Manusia itu ''. Bagaimana manusia itu berproses dalam pembelajaran Agama adalah urusan masing-masing dengan metodanya tersendiri,itu tidak penting dalam hal ini ( rawan debatable tak ada ujungnya,egosentris yg muncul ).

Ada 4(empat) tolok ukur dasar untuk mengetahui indikasi ekspresi perbuatan manusia,yaitu : 1. Niat hati. 2. Pikiran. 3. Ucapan. 4. Tindakan. Dari sudut pandang versi '' Energi Spiritual Nusantara '' Perbuatan manusia diukur dan disetarakan dengan : '' BERMAKNA '', jadi sejauh mana anda Bermakna bagi : diri sendiri-keluarga-masyarakat-lingkungan-bangsa/negara-alam semesta/mahluk ciptaan. Dengan metoda scoring pembobotan nilai tiap variable,akan dapat diketahui sejauh mana hasil berAgama anda atas perilaku perbuatan/ahklaq/budi luhur Anda.

BERMAKNA : mengandung nilai-nilai Bermanfaat - Berfungsi - Berguna, bagi sesama mahluk ciptaan Tuhan (manusia,hewan,tumbuhan,ekosistem,alam semesta,dll). Jadi Bermakna orientasinya adalah Positif berdasarkan kebenaran hakiki,bukan benar menurut pendapat golongan yang akan didebat golongan lain,tak berkesudahan,padahal ujungnya : Dirimu sendiri yang akan mempertanggung jawabkan segala perbuatanmu dihadapan Tuhan.

Jadi, mumpung anda masih hidup di Bumi,ditakdirkan memeluk dan menjalankan Agamanya masing-masing, berproses,temukanlah inti Agama yaitu : '' Indah dan Nikmatnya : 1. Kebenaran. 2. Kasih sayang. 3. kebahagiaan. 4. Kebijaksanaan. 5. Kekuatan/Energi. 6. Kedamaian. 7. Keselamatan, yang terkristal mewujud dalam Kebermaknaan hidup ''. By Indra Andarun

Sunday, March 3, 2013

ALASAN RIZKI DARI LANGIT

Jika di muka bumi ini sudah tidak ada insan beriman; sudah tidak ada manusia yang beribadah; sudah tidak ada lagi manusia yang komitmen dengan Syariat Islam; tidak ada lagi adzan, istughfar, dan taubat; tidak ada lagi kaum wanita yang menutup aurat dan menjaga kehormatan; maka dengan semua keadaan itu, tidak ada lagi alasan bagi Allah untuk memberi jaminan rizki bagi manusia. Pintu-pintu rizki akan ditutup, keramahan alam akan diangkat, air dari langit akan ditahan, dan seterusnya. Oleh karenanya para Rosul mengajak manusia sebanyak-banyaknya kejalan Allah SWT tanpa kenal lelah demi derajat tinggi seorang hamba, walau kerjaan mereka tidak popular apalagi gini hari. Bila Ketaatan hilang dari sebagian besar manusia, maka belajarlah dari umat-umat terdahulu.
By Muhammad Indra Andarun

MISTERI DIBALIK FIRAUN, DAN TIPUANNYA KEPADA NABI MUSA AS

Allah SWT Berfirman : Berkatalah pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun kepada Fir'aun, "Apakah kamu membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri ini Mesir dan meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?." Fir'aun menjawab: "Akan kita bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan mereka; dan sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka." ( SQ. Al Araaf : 127 )

Bayangin seorang Nabi Musa Alaihissalaam dibilang sebagai pembuat kerusakan, membikin keonaran dan mungkin bisa dikata membuat resah masyarakat oleh para pembesar Firaun, jadi diatas Firaun, ternyata ada tuh para pembesarnya yang tugasnya memerintah Firaun, dan satu lagi yang menarik dibilangnya Firaun dikhawatirkan para pembesarnya tersebut akan meninggalkan tuhan-tuhannya, padahal kita semua tahu Firaun memproklamirkan dirinya sebagai tuhan.

Informasi dari Quran diperuntukkan bagi manusia hingga hari kiamat, sebuah informasi yang terus berulang. Sebagai seorang yang beriman pastilah kita akan begitu mencermati ayat diatas sebagai sebuah panduan ketika seringkali para musuh Allah SWT memutar balikkan fakta, dan sarat akan fitnah kepada para hamba Allah SWT yang shaleh, menyerukan Agama Allah SWT dilevel Tauhid kepada pembesar

Allah SWT Berfirman : Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu mengatur tipu dayanya, kemudian dia datang
( QS Thoha : 60 )

Bahwasanya firaun begitu menindas rakyatnya, disini bukan hal pangan malah sebuah riwayat Firaun rajin memberikan makanan kepada rakyatnya, tetapi penindasan disini ialah Firaun berlaku sewenang-wenang, penuh ketidak adilan, dan menyengsarakan rakyat yang kecil, karena apa ? karena Firaun berlaku sebagai tuhan, dan tidak mau tunduk kepada petunjuk Allah SWT melalui Nabi Musa AS. Penguasalah yang berhak menetapkan aturan, disinilah dikala Firaun diberi amanah sebagai pemimpin, ia sebagai pengemban tanggungjawab tidak mau menyembah Allah SWT dalam artian enggan menjadikan Allah SWT sebagai penguasa dirinya memakai aturannya, dan ia bersikeras menjadikan dirinya sebagai penguasa yang berhak menetapkan aturan. Dirinya berlaku sebagai tuhan menguasai negerinya. Penetap aturan tertinggi yang gak bisa dibantah oleh siapapun termasuk Nabi Musa Alaihissalaam.

Nabi Musa Alaihissalaam langsung difitnah sebagai pembuat kerusakan karena membahayakan posisinya sebagai penguasa mesir, firaun takut Nabi Musa AS mengganti agama dalam artian semua bidang kehidupan sejalan dengan aturan Allah SWT, karena aturan Allah SWT meliputi seluruh bidang kehidupan dan jelas akan menghalangi keleluasaaan penguasa dalam menjalani kepentingannya. Dalam kata pembesar Firaun, jelas dibelakang Firaun ada sekelompok pembesar, mereka juga ikut mengatur dibalik layar, bisa dikata berlaku sebagai mafia, dimana kisah firaun terkait erat dengan seorang hartawan Qorun dan pemegang hartanya yang bernama haman.

Allah SWT Berfirman : dan juga Karun, Fir'aun dan Haman. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka Musa dengan (membawa bukti-bukti) keterangan-keterangan yang nyata. Akan tetapi mereka berlaku sombong di muka bumi, dan tiadalah mereka orang-orang yang luput dari kehancuran itu. ( QS Al Ankabut : 39 )

Ketika itu Nabi Musa AS adalah seorang sipil yang tidak berdaya apa-apa, berbanding jauh dengan Firaun seorang raja yang besar, memiliki tentara dan harta yang berlimpah, namun Nabi Musa Alaihissalam dan Nabi Harun Alaihissalam mendatanginya dan menyerukan agar Firaun mau menyembah Allah SWT, dengan segala resikonya beserta bahaya yang mengancam dari tipu daya pengikut Firaun. Bagi Allah SWT jelas firaunlah yang membuat kerusakan karena tidak mau menyembah-Nya, sebagai penguasa ia menggunakan kekuasaannya demi mengerjai penduduknya demi melanggengkan kezalimannya.

Allah SWT Berfirman : Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir'aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. ( QS Al Qashash : 4 )

Allah SWT Berfirman : Demikianlah dijadikan Fir'aun memandang baik perbuatan yang buruk itu, dan dia dihalangi dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir'aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian ( QS Al Mukmin : 37 )

Allah SWT Berfirman : Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan Kami - akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih." ( QS Yunus : 88 )

By Muhammad Indra Andarun

BANYAK PELAJARAN DARI ARTI HAKIKAT KEHIDUPAN

Janganlah kita sangka bahwa pepohonan dan taman-taman yang hijau itu akan abadi, jangan kita kira bahwa rumah yang kita tempati dengan aman dan nyaman bisa menyelamatkan kita dari adzab Allah. Jika Allah menghendaki maka keadaan bisa saja berubah dalam sekejap, Dia bisa mendatangkan siksaNya sewaktu-waktu dan kapan saja, waktu malam ketika kita lelap tertidur, ataupun dipagi yang cerah ketika kita sedang bermain dan bercanda ria dengan anak dan keluarga, sebagaimana difirmankan dalam surat Al A'raf ayat 97-99, artinya:

"Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?" (QS. 7:97)

"Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?" (QS. 7:98)

"Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga) Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (QS. 7:99)

Siapapun yang ingin meraih kebahagiaan dan keselamatan hidup di dunia dan akhirat, hendaknya ia mulai menerapkan rasa takut kepada Allah dalam setiap gerak langkahnya.

Karena hanya dengan kita takut kepada Allah SWT, maka kita dapat selamat dari kelalaian dan selamat dari segala macam perbuatan dosa atau maksiat. Selain takut kepada Allah SWT, kita pun harus penuh harap hanya kepada Allah

Allah SWT berfirman: Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka (QS. Al-Mukmin [23]: 60)

Tafsir Ibnu Katsir : Orang yang takut kepada Allah maksudnya takut berdiri di hadapan-Nya dan takut hukuman-Nya, sehingga ia bisa menahan hawa nafsunya di dunia dan senantiasa kembali mentaati seruan-Nya

By Muhammad Indra Andarun 

MANUSIA BISA MEMILIH KETAATAN DAN KEMAKSIATAN, BUKAN KARENA TAKDIR SEMATA

Sebagian orang ada yang beralasan dengan takdir ketika berbuat maksiat atau dosa. Seorang pencuri, perampok atau peminum minuman keras, bisa jadi akan mengatakan, "Habis mau bagaimana, memang sudah dari sananya," maksudnya sudah ditetapkan olah Allah subhanahu wata’ala. Ada kalanya mereka mengatakan demikian karena untuk menenangkan atau menghibur diri. Bahkan ada yang mengaku bahwa itu adalah bagian dari keimanan terhadap qadha' dan qadar. Yakni qadar Allah yang baik dan yang buruk yang manis maupun yang pahit, semuanya dari Allah. Sehingga dengan alasan itu seakan-akan mereka terbebas dari kesalahan dan tuntutan dosa, karena apa yang dia lakukan berupa kemaksiatan adalah berasal dari ketetapan Allah juga. Benarkah demikian?

Pada dasarnya memang segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wata’ala, apa yang Dia kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki maka tidak akan terjadi. Hanya Allah sendirilah yang bukan makhluk, baik Dzat maupun sifat-sifat-Nya, sedangkan selain Dia adalah makhluk, Dialah Al- Khaliq.

Dan di antara makhluk Allah subhanahu wata’alaadalah kebaikan dan keburukan, segala yang baik dan segala yang buruk. Makhluk ciptaan Allah yang baik misalnya malaikat dan para nabi, dan makhluk Allah yang buruk misalnya Iblis dan para penentang rasul seperti Abu Lahab, Abu Jahal dan orang yang semisalnya.

Namun harus diingat bahwa Allah subhanahu wata’alamenjadikan manusia ini bukan seperti robot yang tergantung operator. Bukan pula seperti batu dan pohon.

Manusia adalah makhluk mukallaf yang diberi kemampuan dapat membedakan yang baik dan buruk serta kemampuan memilihnya, sebagaimana firman-Nya, artinya,
“Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS.Hud:7)

Dan di dalam firman-Nya yang lain, artinya,
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. 67:2)

Juga di dalam ayat lain, “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. 76:2)

Faktor yang memotivasi kebaikan adalah: pertama; Fithrah (naluri asli manusia yang condong kepada kebaikan).

Ke dua; Akal yang mampu membedakan dan menganalisa, dan yang

ke tiga; Wahyu Allah yang diberikan kepada rasul dan telah disampaikan kepada manusia. Sedangkan yang memotivasi kejahatan adalah syetan, yang didukung dengan keinginan-keinginan nafsu manusia, dan nafsu inilah yang biasa dimanfaatkan oleh setan.

Allah subhanahu wata’ala telah memberikan kemampuan kepada setan untuk mempengaruhi manusia, namun manusia juga diberi senjata untuk menghadapinya, yaitu petunjuk jalan dan perlindungan bagi siapa saja yang berlindung kepada-Nya. Terserah manusia akan menggunakan senjata tersebut atau tidak. Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan manusia untuk berlindung kepada-Nya dari kejahatan setan.

Dia berfirman, artinya,
“Katakanlah, "Aku berlindung kepada Rabb manusia". Raja manusia. Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia.” (QS. 114:1-6)

Allah subhanahu wata’ala adalah hakim yang Maha Adil. Dia mempunyai hujjah-hujjah yang nyata atas hamba-hamba Nya. Dia menjadikan faktor pendorong kebaikan lebih banyak daripada faktor pendorong kejahatan, dan Dia menjelas kan dua jalan ini melalui firman-Nya, artinya, "Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS.Al Balad:10)

Setelah itu manusia mengambil jalan yang dia kehendaki berdasarkan pilihannya. Maka siapa saja yang menempuh jalan kebaikan, menuruti faktor pendorong kebaikan, mengalah kan faktor pendorong keburukan, maka dia berhak mendapatkan ganjaran pahala. Dan barang siapa yang memilih jalan keburukan, mengikuti faktor pendorong keburukan, maka dia berhak mendapatkan siksa.

Keseluruhan perbuatannya itu terjadi atas kemauan dan pilihan manusia sendiri. Dia merasakan dengan kesadaran yang sepenuhnya, bahwa dia tidak dipaksa untuk melakukannya. Dan jika dia mau, maka ia tidak berbuat yang demikian itu. Semua ini dapat dimengerti secara sempurna dan dirasakan oleh setiap insan, dan juga telah dinyatakan oleh dalil-dalil al-Qur'an dan as-Sunnah yang suci.
By Muhammad Indra Andarun

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...